Pemikiran Tokoh: Wanita dalam Bingkai Pendidikan dan Emansipasi

Hasil gambar untuk siti walidah

Oleh Immawati Shofi Naqiyah

IMM FPB UMY

 

Pembahasan seputar wanita pada era ini merupakan salah satu topik yang menarik untuk dikupas dan didiskusikan dari berbagai macam sisi. Dari pembahasan sosok wanita pada masa lalu dan perbandingannya dengan wanita modern saat ini, pemikiran dan kiprahnya dalam dunia sosial, serta hakekat kedudukannya dalam keluarga adalah lingkup persoalan wanita yang sangat sering diperbincangkan. Hal ini tidak bisa dipungkiri sebagai akibat dari makin berkembangnya ilmu pengetahuan di dunia yang secara langsung maupun tidak, telah menggeser pola pikir masyarakat dunia ke tingkat yang lebih atas. Sebelum membahas terlalu jauh, mari kita ketahui bersama filosofi kata wanita yang hanya kita pahami sebagai salah satu ciptaan Tuhan yang dikaruniai keajaiban untuk melahirkan dan membesarkan generasi-generasi hebat di dunia. Apabila dilihat dari makna katanya, kata wanita terbentuk dari dua kata bahasa Jawa yaitu Wani yang berarti berani dan Tata yang berarti teratur. Dalam dua penggal kata ini, ada dua makna yang berkebalikan. Yang pertama adalah wani ditata yang artinya berani ( mau ) diatur dan yang kedua adalah wani nata yang berarti berani mengatur. Makna yang pertama sudah sangat sering dan lekat diibaratkan dengan seorang wanita yaitu seseorang yang manut dan mau untuk diatur. Yang sedang banyak disoroti dari seorang wanita terdapat pada makna kata yang kedua yaitu wani nata ( berani mengatur ) yang berarti bahwa seorang wanita perlu ilmu pengetahuan atau pendidikan guna menjalankan tugas tersebut.

Pembahasan diatas erat kaitannya dengan sebuah kata yaitu emansipasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata emansipasi berarti pembebasan dari perbudakan; persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). Sedangkan emansipasi wanita adalah proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju. Salah satu bentuk emansipasi adalah kebebasan wanita saat ini untuk mengenyam bangku pendidikan setinggi mungkin. Hal ini tidak terlepas dari peran para tokoh emansipasi wanita, salah satunya adalah Siti Walidah. Beliau adalah istri dari pendiri Muhammadiyah yaitu KH Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman pada tahun 1872. Kiprahnya dalam mencerahkan jalan pendidikan bagi kaum wanita terlihat dari kelompok pengajian yang ia dirikan pada tahun 1914. Kelompok pengajian tersebut diberi nama Sopo tresno hingga akhirnya berubah nama menjadi ‘Aisyiyah dan termasuk salah satu organisasi otonom Muhammadiyah. Sopo Tresno atau ‘Aisyiyah berfokus pada pemahaman ayat-ayat dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan isu-isu kaum wanita. ‘Aisyiyah merupakan jalan terang bagi Siti Walidah ( Nyai Ahmad Dahlan ) untuk mendirikan sekolah-sekolah khusus bagi perempuan dan juga merupakan sebuah penerangan bagi gelapnya pendidikan bagi wanita saat itu.

Pendidikan dan emansipasi merupakan dua aspek yang saling berkaitan. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Nyai Ahmad Dahlan masuk ke sektor pendidikan untuk mengubah paradigma klasik seorang wanita dan melepaskannya dari ikatan tradisi yang membatasi ruang gerak mereka pada waktu itu. Yang perlu dilakukan untuk melakukan sebuah perubahan adalah dengan menciptakan perubahan dasar yang dengan sendirinya akan melahirkan sebuah perubahan besar dan menyeluruh. Sektor pendidikan adalah bagian dasar yang tepat untuk dibenahi dalam rangka membebaskan wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah. Seperti yang telah dilakukan oleh Nyai Ahmad Dahlan dengan memberikan pendidikan bagi perempuan untuk membaca, menulis, memahami ayat-ayat al-Qur’an, dan lain sebagainya, hal ini merupakan bahan baku yang tepat untuk mewujudkan ruang gerak wanita yang lebih fleksibel dan luas lagi. Apabila seorang wanita mempunyai wawasan dan ilmu pengetahuan yang baik, maka ia dapat berpikir dalam menentukan jalan yang akan ia ambil untuk dapat bertahan di persaingan dunia yang semakin menghimpit.

Pemikiran Nyai Ahmad dahlan bagi pendidikan kaum wanita inilah yang membuat beliau disetarakan dengan tokoh pejuang wanita seperti RA Kartini. Namun, Keleluasaan gerak, kebebasan berfikir, kebebasan bertindak bagi kaum wanita yang sudah semakin berkembang harus didampingi dengan kesadaran akan kodrat dan tata aturan yang tetap harus dimiliki oleh seorang wanita. Walaupun seorang wanita mempunyai pendidikan yang tinggi, pekerjaan yang bagus, dan karir yang menjanjikan, tetap saja wanita mempunyai kodrat mulia sebagai seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Penanaman atas tugas mulia ini juga sangat bermanfaat sebagai pengingat bagi wanita yang sudah lekat dengan kata emansipasi, agar mereka tidak menjadi pelaku emansipasi diluar batas yang justru akan memperburuk masalah dibidang lainnya. Yang harusnya kita ingat adalah semakin merdu gaung-gaung emansipasi terhadap wanita, semakin berat tantangan kita sebagai target emansipasi dalam memposisikan diri pada porsi yang seimbang. Maka dari itu, religiusitas tetap harus digaungkan pula agar semuanya tidak keluar dari jalur yang semestinya.

Advertisements

About immfpbumyblog

official web of IMM FPB UMY
This entry was posted in Aku bangga punya karya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s